One Night in Bakkara

Share on :
Bakkara,Humbang HasundutanSudah pukul 4.30 sore ketika saya dan teman seperjalanan, Vivi, sampai di pertigaan Dolok Sanggul yang menuju Bakkara, tujuan kami. Sejak pagi tadi kami sudah naik ojek dari Tongging di sisi barat laut Danau Toba, menuju Silalahi, lalu diteruskan naik angkot ke Sidikalang. Dari kota kopi ini kami meneruskan dengan bis kecil CKB untuk sampai ke pertigaan ini. Masih 10 km lagi supaya kami bisa sampai di Bakkara (kadang ditulis juga Bakara) yang terletak di tepi barat daya Danau Toba. Mengapa kami menuju daerah asal Sisingamangaraja XII ini, tak lain karena kami pernah melihat keindahan negeri ini saat mencari info tentang Danau Toba di internet.

Di sebuah warung dekat pertigaan ini orang-orang berkumpul. Sebagian sedang menumpang beristirahat, sebagian lagi sedang menunggu angkot ke Bakkara, yang tidak muncul-muncul. Salah satunya Pak Banjar Nahor dan istrinya. Dia asli Bakkara namun tinggal di Sidikalang. Meski hanya terpisah jarak 2,5 jam saja dengan angkutan umum, dia mengaku jarang sekali pulang ke Bakkara. Berjas biru yang sudah agak pudar warnanya, lelaki yang berbadan kecil dan bersuara lirih ini sekarang hendak pulang kampung karena ada kerabatnya yang menikah.
“Nanti menginap di mana?” tanyanya.
Kami terus terang belum punya gambaran mau menginap di mana, karena memang tidak menemukan informasi tentang penginapan di Bakkara. Dalam rencana kami, menginap di rumah penduduk juga tidak apa-apa.
“Nanti menginap di rumah saudara saya saja, di Warung Lala,” tawar Pak Banjar. Oh, tentu saja kami terima dengan senang hati! Lagi-lagi, di perjalanan mengelilingi Toba yang sudah menginjak hari ketiga ini, kami selalu bertemu dengan orang baik. Kontras sekali dengan gambaran tentang orang Batak kalau di Jakarta.
Setelah menunggu hampir satu jam, angkot L300 warna putih kusam yang kami tunggu akhirnya datang. Sepertinya ini angkot yang kebetulan lewat saja karena habis dicarter orang dari Bakkara. Sebab menurut informasi, angkot hanya ada dua kali dari Bakkara: satu jam 8 pagi, satu lagi jam 3 siang.
Jalan aspal yang kami lalui sempit dan menurun, namun cukup mulus sehingga mobil pun berlari kencang. Duduk di belakang supir membuat saya bisa menikmati pemandangan di depan. Hanya ada beberapa kampung di sisi jalan, sisanya bukit di sisi kanan dan lembah di sisi kiri. Setelah melewati beberapa tikungan tajam dan menurun, kami memasuki daerah yang di sisi kirinya dipenuhi jejeran pohon cemara, dan… tiba-tiba saja di depan bawah sana terhampar pemandangan yang menakjubkan. Terbentang lembah yang luas dengan hamparan sawah menghijau, kelokan alur sungai tepat di tengahnya, di kanan-kiri diapit
bukit yang tinggi, dan kesemuanya berujung ke… Danau Toba!
Di belakang air danau yang biru memutih itu masih ada lagi bukit-bukit yang menjulang tinggi. Persis dengan foto-foto di internet tentang lembah ini. Pemandangan seperti ini kami temui di beberapa tikungan. Sayang, mobil tidak bisa berhenti. Setelah melewati jalan yang agak sedikit rusak, kami memasuki Desa Simamora. Kami melewati sebuah kompleks rumah Batak di sisi kanan jalan, dan Pak Banjar memberi tahu saya.

“Di situ ada makam Sisingamangaraja X dan Sisingamangaraja XI. Tapi karena sudah lewat jam 5, sepertinya sudah tutup, jadi besok saja kalau mau mampir.” Beliau juga bilang kalau makam Raja Sisingamangaraja XII, yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional, tidak satu kompleks dengan ayah dan kakeknya, tapi di Soposurung dekat kota Balige, 2 jam dengan mobil dari Bakkara.
Bakkara sendiri merupakan nama untuk daerah yang mencakup keseluruhan
lembah ini. Di dalamnya terdapat beberapa desa: Simamora, Sionggang, Sinambela, Marbun, dan Simangulampe. Marga-marga Batak yang mendiami daerah ini, selain Simamora, Sinambela, dan Marbun, juga ada Lumbanraja, Malau, dan Manalu. Bakkara ini masuk ke dalam Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Udara terasa sejuk dan hari sudah gelap saat mobil kami berhenti di depan sebuah warung, dan Pak Banjar ‘menitipkan’ kami ke Lala Marbun, kerabat yang sepertinya silsilahnya ada di bawah, karena Lala memanggilnya opung (kakek).
Sepertinya tidak ada tempat untuk tidur kami di warung ini, karena hanya ada satu kamar yang ditempati Lala dan adiknya, Rugun, serta bapaknya tidur di bangku panjang. Di Bakkara ini memang ada sebuah wisma pemerintah, tapi untuk bisa menginap di situ, kami harus minta izin dulu sebelumnya ke Pak Camat.

Segera mengontak sepupu laki-lakinya, Berlin, untuk mencarikan rumah penduduk yang bisa ditumpangi kami menginap. Berlin kemudian datang membawa motor dan sebuah kabar baik: kami bisa menginap di rumah Ibu Bidan Ainur Malau. Kami pun bertiga berboncengan naik motor, dan setelah
melewati sebuah pekan (pasar) sampailah kami di rumah yang dituju, di sebuah gang.
Ibu Ainur, yang belakang rumahnya langsung berbatasan dengan Danau Toba, dengan ramah dan keibuan menerima kami. Beliau mempunyai 7 anak yang sudah menyebar ke berbagai kota. Sekarang, dia hanya tinggal bersama anak perempuannya yang meneruskan profesinya menjadi bidan, sang menantu yang menjadi pegawai kelurahan, dan dua cucu laki-lakinya yang masih balita. Untuk ukuran Bakkara, rumahnya cukup bagus, meski tidak mewah. Ternyata, dia mempunyai lima kamar kosong di tingkat dua. Cuma entah mengapa tidak dibuka menjadi penginapan. Mungkin dia terlalu repot untuk mengurusnya, atau mungkin karena jarang ada wisatawan mampir ke sini.
Setelah Ibu Ainur membersihkan dua kamar, kami pun dipersilakan beristirahat. Di lantai atas itu terdapat sebuah beranda di belakang. Tak jauh di bawahnya ada kandang babi, lalu tepi Danau Toba. Hanya riak-riak kecil terdengar dari air danau. Udara malam di sini cukup dingin dan suasananya sepi sekali. Kami, yang sudah cukup lelah karena seharian memutari sisi barat danau, akhirnya tertidur dengan cepat.

***
Sunrise yang kami tunggu-tunggu sejak gelap ternyata tidak muncul, karena pagi tertutup mendung. Namun dari dermaga kecil di samping rumah, kami melihat seorang nelayan mendayung perahu kecilnya merapat ke dermaga, dan tampaklah oleh kami perahunya terisi setengahnya oleh ikan pora-pora. Ini adalah ikan khas Danau Toba, besarnya sekitar dua jari tangan, dengan badan berwarna keperakan dan punggung berwarna biru. Ikan-ikan itu nanti akan dijual ke pengumpul. Dari dermaga ini pula, setiap hari pasar, yakni Rabu, ada kapal yang melayani rute Bakkara-Nainggolan di Pulau Samosir. Sayang sekarang hari Senin. Setelah minum kopi dan pisang goreng di warung dekat dermaga, kami cuma bisa melewati pasar dengan los-los yang sepi.
Beberapa lelaki tengah mengobrol di sebuah warung kopi di pinggir jalan, dan kami bertanya apakah mereka bisa mengantar kami ke Air Terjun Janji, Aek Sipangolu, kompleks makam Sisingamangaraja, lalu ke pertigaan Dolok Sanggul tempat kami kemarin sore. Air Terjun Janji, kata Lala, mesti
dikunjungi karena indah dan bertingkat. Sedangkan Aek Sipangolu, kata seorang teman di Jakarta, mesti dikunjungi karena situs itu merupakan sumber air kehidupan.
“Bisa. Kalau buat dua orang, biayanya 300 ribu.”
Aahh, mahal sekali, pikir saya. Kami menawar separuhnya, tapi mereka bergeming. Mereka tentu saja mau menolong, tapi dari pengalaman selama mengelilingi Toba ini, mereka tidak mau menurunkan harga. Jadi kami minta ditunjukkan saja bagaimana cara ke Air Terjun Janji.
“Jalan kaki saja menyusuri jalan aspal ini, nanti air terjunnya ada di samping warung pinggir jalan,” kata salah seorang bapak. Mula-mula kami melewati rumah-rumah penduduk, lalu kebun bawang merah, yang berseberangan dengan sawah menghampar hijau, luas sekali hingga ke ujung sana. Kalau ke sini satu bulan lagi, pasti sawah ini menjadi hamparan padi
kuning keemasan. Jalan lalu menaik begitu bertemu dengan tepi Danau Toba. Pagi masih mendung, namun air yang menghampar luas dan tenang, dikelilingi gunung-gunung yang biru memutih dan udara yang sejuk, memberikan perasaan damai dan tenang. Sebuah jalan di seberang selatan sana yang menggaris gunung, pastilah jalan menuju Muara, kota di timur Bakkara. Sedangkan jalan yang saya tapaki ini akan menuju ke sebuah desa di kejauhan sana, yang kemudian saya tahu bernama Desa Tipang. Di depan desa ini ada sebuah pulau kecil tanpa penghuni, yang disebut Pulau Simamora.

Sekitar 10 menit berjalan, kami mendengar bunyi gemuruh saat mendekati sebuah warung yang baru dibuka oleh pemiliknya. Tak salah, ini adalah Air
Terjun Janji. Air limpahan air terjun ini dibendung di beberapa titik sehingga menciptakan kolam-kolam kecil yang asyik untuk berendam. Saya baru memotret beberapa kali, ketika mendung berubah menjadi gerimis. Saya dan Vivi berteduh di warung. Tak lama kemudian datang seorang pengunjung yang juga ikut berteduh. Jadilah kami mengobrol.Menurut pengunjung tadi, Pak Aman Simamora, air terjun ini dinamakan Air Terjun Janji, karena dulu pernah menjadi rebutan kepemilikan antara Bakkara dan Tipang. Kedua daerah akhirnya mengadakan perjanjian damai, dan air terjun ini masuk wilayah Bakkara. Dari situlah nama ‘Janji’ berasal.

Mendengar kami hendak ke Aek Sipangolu, sang pemilik warung, Mas Harto Marbun, menawarkan diri untuk mengantar kami. Dengan satu motor bertiga orang, kami balik lagi ke Bakkara, melintasi sungai utama, masuk Desa Sinambela, lalu belok kiri mengikuti petunjuk arah ke Aek Sipangolu.
Kami melewati jalan yang kanan-kiri dipenuhi sawah dengan padi-padi hijau menguning, dan di beberapa tempat berdampingan dengan kebun kopi.
Seumur hidup, saya baru kali ini melihat ada tanaman kopi berdampingan dengan padi, di tepi sebuah danau. Kami melewati beberapa orang yang tengah mengemas ikan pora-pora ke dalam bak-bak fiberglass untuk diangkut memakai truk. Ikan-ikan itu akan dijual ke Pekanbaru dan Padang,” tutur Harto. Sungguh mengagumkan, danau ini tiap hari menghasilkan ribuan ikan yang bisa menghidupi penduduk di sekitar danau. Dan ini tak hanya di Bakkara saja. Di hari-hari sebelumnya, kami juga melihat nelayan di Tolping, Tongging, dan Silalahi memanen ikan-ikan ini.
Kami melewati sebuah gereja yang berdampingan dengan SD Simangulampe, dan tak lama kemudian, kami sampai di sebuah jembatan kecil. Sungai kecil mengalir dari bukit di kanan kami, airnya menerobos di bawah jembatan, masuk ke sebuah kolam buatan kecil. Dari sini, air sebagian mengalir ke danau, sebagian lagi masuk ke bilik-bilik mandi. Rupanya ini yang disebut Aek Sipangolu (air kehidupan). Menurut cerita, mata air ini muncul setelah Raja Sisingamangaraja XII menancapkan tongkatnya untuk memberi minum bagi gajahnya yang kehausan. Konon air ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit, dan orang yang mandi di sini bisa awet muda.

Terus terang saya agak kecewa, karena saya mengira Aek Sipangolu ini sebuah air terjun yang tinggi, bagus, dan bernuansa alami. Ternyata tidak. Jadi saya memutuskan hanya akan numpang ke toilet saja. Begitu saya buka salah satu bilik mandi untuk laki-laki, ternyata di dalamnya ada sebuah pipa berdiameter sekitar 5 cm, dengan air dingin yang mencurah deras. Tiba-tiba saja saya jadi ingin mandi! Apa lagi tadi pagi saya memang tidak mandi karena airnya dingin sekali. Vivi yang sedang mengopi di warung pun tertawa melihat saya kemudian muncul dengan badan segar dan rambut basah.
Di warung itu ada juga Ibu Erni Tagor dari Asahan, yang sengaja datang ke sini diantar saudara laki-lakinya. Erni membawa sebuah jerigen, dan meminta saya untuk memfotonya begitu dia mengambil air. Ternyata di kolam kecil buatan itu ada sesajian, dan orang-orang yang datang dari jauh mengambil air di sini untuk mendapat berkah. Dari Aek Sipangolu ini, kalau memandang ke seberang danau, akan tampak dua air terjun menjulang tinggi. Salah satunya tampak seperti air terjun bersusun. Air dari air terjun itu masuk bukit, lalu keluar lagi menjadi air terjun kedua di bawahnya. “Itu kan Air Terjun Janji yang tadi Mas ke sana,” terang Harto. Astaga, kenapa saya lupa dengan perkataan Lala, bahwa air terjun itu bertingkat? Mengapa tadi saya tidak melihatnya? “Kalau pas di bawahnya memang tidak kelihatan, kecuali Mas mendaki lagi jalan setapak di samping air terjun. Lagipula tadi hujan kan waktu Mas di sana.”

Air terjun satunya lagi yang juga tinggi, bahkan lebih tinggi, adalah Air Terjun Tipang. Ah, sepertinya saya harus ke sini lagi lain kali dan menginap di Tipang agar bisa menjelajahi kedua air terjun itu dengan lebih tuntas.
Matahari hampir di atas kepala. Sekarang kami tinggal ke kompleks makam raja, lalu balik ke Dolok Sanggul untuk meneruskan perjalanan ke Tele. Karena angkot baru ada jam 3, Harto menawarkan untuk mengantar kami memakai dua motor. Kami pun balik ke rumah Ibu Bidan untuk mengambil backpack dan pamit. Harto menelepon temannya, Efdi, yang kemudian datang dengan motor. Kami pun melaju ke makam raja.

Kompleks makam dan istana Sisingamangaraja terletak di pinggir jalan Desa Lumbanraja -sekarang namanya Desa Simamora- bersebelahan dengan rumah-rumah penduduk. Suasana bagian depannya sepi, namun tertata rapi.
Kami naik undak-undakan untuk sampai ke makam sebenarnya. Salah satu anggota keluarga penjaga yang ada di sini, Pak Markoni Sinambela, menjelaskan makam-makam di sini. Yang seperti sumur ditutup beton adalah makam Raja Sisingamangaraja X. Yang dikuburkan di sini hanya kepalanya saja, sementara badannya konon terkubur bukit di tempat lain saat beliau gugur dalam perang melawan Tuanku Rao. Makam anaknya, Sisingamangaraja XI merupakan sebuah cungkup tertutup, dengan bagian depannya dihiasi bendera kerajaan berwarna merah dengan dua pedang dan bulan-bintang.
Sisingamangaraja XII, yang melancarkan perlawanan gerilya selama 31 tahun terhadap penjajah Belanda (1876-1907), tidak ada di sini. Semula makamnya berada di Tarutung, namun kemudian dipindah ke Soposurung, Balige, atas saran Presiden Soekarno. Setelah Sisingamangaraja XII wafat, tidak ada lagi raja yang menjadi penerusnya, hingga sekarang.
Namun Pak Markoni sendiri mengaku bahwa kalau dirunut, dirinya adalah Sisingamangaraja XV. Saya, tentu saja, tak ingin mempertanyakan benar-tidaknya klaim beliau.
Yang unik, di samping makam ini ada tiga bangunan rumah kayu khas Batak, yang dulu merupakan istana raja. Orang luar ternyata boleh menginap di sini, asal minta izin lebih dulu ke Pak Markoni. Dinding luar istana-istana ini mempunyai /gorga/ (ukiran tradisional Batak) yang unik, yang didominasi warna putih, hitam, dan merah. Markoni membacakan ukiran stempel raja, yang ternyata ditulis dalam huruf Batak dan huruf Arab! Konon hal itu karena adanya percampuran budaya antara Parmalim agama asli orang Batak dengan agama Islam. Hal lain yang unik, di tiap istana itu pasti ada ukiran cecaknya. Menurut Markoni, hal itu karena dalam kepercayaan orang Batak, cecak merupakan pelindung rumah dan juga lambang keuletan.
Kami meninggalkan kompleks makam raja, melaju di jalan yang meliuk dan makin meninggi, hingga kemudian sampai di tikungan dengan pemandangan indah yang saya lihat kemarin. Begitu turun dari motor untuk memotret, suara gemericik air Sungai Bakkara yang membelah lembah di bawah terdengar jelas sekali dari tempat kami berdiri, bercampur dengan desau angin. Lembah Bakkara yang luas memanjang hingga menyentuh tepi Danau Toba ini sungguh menakjubkan, layaknya negeri dongeng. Dan ternyata tidak hanya satu, tapi ada tiga tikungan jalan yang menawarkan pemandangan luar biasa lembah ini. Mendadak saya jadi sedih, mengapa saya baru menikmati keindahan ini ketika hendak pulang? Kalau saja saya tidak harus ke tempat lain, pasti saya akan meminta Harto untuk membawa saya balik ke Bakkara, dan tinggal lebih lama lagi di surga ini…. (T)
/*Menuju Bakkara*/
Bakkara terletak di sisi barat daya Danau Toba. Meski jaraknya cukup jauh, umumnya orang yang berkunjung dari Jakarta melalui Medan dahulu. Garuda Indonesia (www.garuda-indonesia.com ) memberikan fleksibilitas waktu terbang yang paling baik, karena menerbangi rute Jakarta-Medan 8 kali sehari. Kalau ingin memaksimalkan waktu, terbanglah dengan GA 180 yang berangkat pukul 5.45 pagi dari Jakarta, dan pulang dengan GA 195 yang terbang pukul 19:50 dari Medan. Lama penerbangan 2 jam 10 menit./

Akses ke Bakkara paling mudah dari pertigaan antara kota Dolok Sanggul dan Siborong-borong. Kalau memakai angkutan umum, bis Sampri dari Medan yang ke Tarutung atau Sibolga akan melewati pertigaan ini. Beberapa jasa angkutan travel di Jl. SM Raja, Medan juga menawarkan rute Medan-Dolok Sanggul, dengan biaya Rp 70-100 ribu sekali jalan. Ongkos angkutan umum dari Dolok Sanggul ke Bakkara Rp 10 ribu, namun jumlah mobilnya terbatas, dan bisa 5 kali
lipatnya kalau menyewa ojek. Karena Bakkara daerah yang luas, ada baiknya menyewa ojek untuk mengeksplorasi tempat ini. Kemarin itu, dengan menyewa ojek untuk mengunjungi beberapa tempat di Bakkara, serta diantar ke Dolok Sanggul, kami berdua membayar Rp 150 ribu. Sementara untuk sewa kamar, kami memberi Rp 100 ribu untuk dua orang.

Kalau memakai kendaraan pribadi dari Medan, rutenya:
Medan-Brastagi-Kabanjahe-Sidikalang-Dolok Sanggul-Bakkara. Bisa juga
melalui rute: Medan-P.Siantar-Parapat-Balige-Siborong-borong-Dolok Sanggul-Bakkara. Waktu tempuh kedua rute ini bisa 7-8 jam. Berdasarkan informasi terakhir, sekarang sedang dibangun hotel di Tipang, sehingga tak lama lagi wisatawan bisa menikmati keindahan Bakkara dengan lebih nyaman.

0 komentar on One Night in Bakkara :

Post a Comment and Don't Spam!